“PADEPOKAN SATRIA UTAMA”
SEJARAH BERDIRINYA PADEPOKAN
Padepokan Satria Utama berdiri
pada tanggal 30 September 1995 di kota Kudus Jawa tengah. Dipimpin oleh Guru
besar Satria Utama Abah Moch Musta’in sebagai Pendiri dan Guru Besar. Didirikan
atas dasar jihad fisabilillah amar ma’ruf nahi munkar ditengah-tengah kondisi masyarakat
yang sering terjadi ketidakadilan dalam kehidupan. Pada
zaman era globalisasi saat ini banyak tantangan yang dihadapi generasi muda.
Dengan pemikiran terbentuknya padepokan Satria Utama, membentuk generasi muda
yang bertaqwa, tangkas, dan trengginas dengan niat tulus menghadapi berbagai
ujian dan rintangan serta melalui rhiadhoh mengharap kharomah dari guru - guru
dengan ridho Allah SWT. Saat ini Padepokan Satria Utama sudah berkembang dan
membuka cabang di berbagai daerah di Indonesia, semoga kiranya Allah SWT
memudahkan perjuangan Satria Utama amin ya robbal alamiin...!
VISI DAN MISI
Abah
moch musta’in mendirikan padepokan Satria Utama seni bela diri dan tenaga dalam
untuk membentengi
diri dan menolong orang lain dengan motto “TOLONGLAH DIRIMU SENDIRI SEBELUM MENOLONG
ORANG LAIN” yang berarti jangan suka menasehati orang lain sebelum
nasehati diri sendiri dan masih banyak lagi makna yang terkandung dalam motto
tersebut.
PROFIL GURU BESAR
Abah Moch Musta’in lahir dikota Demak,
Jawa tengah dibesarkan di Kudus. Dari muda beliau sudah merantau untuk menimba
ilmu ke berbagai guru alim taat agama, guru spiritual dan juga insya Allah
guru-guru hikmah.
Sehingga dalam nafas padepokan Satria Utama lebih banyak nasehat jawa yang mudah
mengena dan menyentuh hati serta perasaan. Seperti pepatah “Ojo rumongso biso bisoho
rumongso”.
KEGIATAN- KEGIATAN
Di
dalam Padepokan Satria Utama semua murid dibekali dzikir bertujuan agar selalu
ingat kepada Sang Kholiq Allah SWT, tidak sombong, berani karena benar takut
karena salah. Dengan begitu bisa menyadang gelar “SANTRI” San yang berarti Ihsan,
Tri adalah Tiga yang berarti menjadi pendekar Satria Utama harus mampu
melaksanakan 3 kebagusan,yaitu :
1. Taat perintah Allah SWT.
2. Taat menjalankan shunnah Rosulullah.
3. Birrul walidain.
ketiga syarat tersebut harus mampu dijalankan dengan
begitu bisa menyandang gelar Satria Utama.
Adapun
kegiatan-kegiatan padepokan satria utama sebagai berikut:
Ø Diharuskan untuk mengamalkan dzikir sehingga selalu mengingat Allah SWT.
Ø
Setiap malam jum’at diadakan Sholat Tasbih.
Ø
Malam selasa kliwon mudjaadah dzikir doa manaqib.
Ø
Malam 10 assyuro istigosah akbar dan kholwatan.
Di
Padepokan Satria Utama semua murid di tekankan mampu menjalani “TOPO NGRAME” tentu istilah ini kurang
dipahami oleh masyarakat awam, Makna dari Istilah tersebut yaitu “Hening dalam kehidupan
mencari ridho Allah SWT” disamping itu hati harus selalu dijaga supaya bisa
tenang, ikhlas menjalankan perintah dalam mencari ridhoNya walaupun harus hidup
di tengah-tengah masyarakat yang penuh perjuangan dengan godaan dan ujian.
PENGOBATAN
Di dalam Padepokan Satria Utama dalam
ilmu Pengobatan, selain metode tenaga dalam juga menggunakan tenaga perana,
inti energi tenaga dalam dikombinasi dengan ramuan herbal dan pijat syaraf
supaya sirkulasi darah lancar, dengan begitu badan akan tetap semangat untuk
cepat mencapai kesembuhan. Sering menemukan kejadian di tengah masyarakat bila
merasa sakit tentulah semua aura dalam tubuh akan tidak teratur begitu juga sebaliknya
untuk mengembalikan tubuh yang sakit dengan ditransfer tenaga dalam dan dibuka
auranya tentu tubuh yang sakit akan jadi sembuh. Selain untuk pengobatan,
energi tenaga dalam mumpuni bila digunakan untuk pemagaran rumah dari aura
negatif.
Aura negative bisa berupa hal yang kurang
baik, misalnya ingin menyelakakan /perbuatan
yang tercela tentu lebih dahsyat bila dilandasi dengan iman dan taqwa yang
kuat di dalamnya terdapat ilmu hikmah atau kharomah Asma‘ul Husna, karena pada
dasarnya seseorang yang mendalami ilmu Hikmah Asma’ul Husna dengan rutin sudah
tentu memiliki tenaga dalam yang bagus. Tinggal bagaimana seseorang mampu atau tidak
untuk bisa mengasahnya. Dan sebaliknya seseorang yang memiliki tenaga dalam belum
tentu mampu menguasai ilmu hikmah atau kharomah
untuk itu dalam nafas Satria Utama tidak bisa lepas dari hukum syariat
dan hakiqot luar kuat dalam haruslah lebih kuat. Pada kenyataanya era jaman modern
semuanya harus serba intan. Sudah jarang yang mau mendalami ilmu kharomah, berdzikir berlama -
lama tentu yang lazim kita jumpai di pondok - pondok pesantren itu pun sekarang
cenderung beralih ke pondok modern.








0 komentar:
Posting Komentar